Thursday, February 20, 2014

BELAJAR MENULIS NOVEL (MINGGU 7): DIALOG



18 Hal tentang Dialog, Pengindraan, dan Menulis Dramatis

1. Novel dramatis ditulis dalam tiga bentuk: narasi dramatis, adegan, dan semi-adegan

2. Dalam narasi dramatis, narator menghubungkan aksi-aksi, memperlihatkan perkembangan karakter, dan mengeksploitasi konflik batin, namun melakukannya dalam bentuk ringkasan.

3. Dalam adegan, narator menggambarkan aksi sebagaimana terjadinya, dalam rupa dialog.

4. Hindari dialog kehidupan sehari-hari yang membosankan. 

5. Dialog yang baik mengekspresikan maksud karakter secara tidak langsung.

6. Semi-adegan adalah narasi dramatis yang memuat pula adegan di dalamnya, bercampur porsi narasi dan dialog.

7. Tulisan dramatis membutuhkan peningkatan konflik. Cerita harus meningkat dari satu keadaan ke keadaan berikutnya.

8. Adegan juga memiliki konflik, yang menuntun pembaca menuju konflik utama dari cerita. buatlah dialog yang memuat dan meningkatkan konflik.

9. Sebuah adegan bentuknya sama seperti cerita: dimulai dari ketegangan yang rendah, meningkat menjadi klimaks, hingga menemukan resolusinya.

10. Hindari menggunakan adegan penuh jika pada awalnya konflik belum terbangun.

11. Pertimbangkan masing-masing adegan, apakah ada bagian adegan yang bisa dipersingkat demi meningkatkan kecepatan alur. 

12. Mempercepat alur berguna untuk menjaga pembaca tetap tertarik pada konflik dan tidak bosan. Selain itu, bisa juga menggantung klimaks adegan demi membuat penasaran pembaca.

13. Pertanyaan untuk menguji dialog yang bagus atau tidak:

  • Apakah ada dalam konflik? Dialog harus mendukung cerita, meningkatkan dari satu keadaan ke keadaan lain.
  • Apakah terdengar basi atau klise? Pilihlah dialog yang tidak seperti percakapan membosankan yang mungkin saja terjadi di kehidupan si penulis.
  • Apakah karakter berdialog demi menyampaikan makna secara tidak langsung? Inilah yang membuat novel seperti permainan menarik, karakter berdialog dengan menyampaikan maksud secara tersirat.
  • Apakah dialognya terdengar cerdas, dan berwarna? Karakter berdialog sesuai dengan kapasitas maksimumnya, dan sesuai sifat karakter. Pemilihan kata dan panjang-pendek kalimat juga memengaruhi.

14. Aturan untuk prosa dinamis dalam narasi dan deskripsi:

  • Spesifik: tempat, waktu, situasi
  • Melibatkan semua indra: penciuman, pengecap, peraba, pendengaran, tekanan, panas, dingin, bahkan indra psikis seperti pertanda, deja vu, dan semacamnya.
  • Puitis, tetapi jangan berlebihan, maka gunakan kiasan (personifikasi, hiperbola, metafora, dan simile)

15. Kiasan:

  • Personifikasi adalah memberikan kualitas manusia pada benda mati. Contoh: “Aku cinta mobilku, tetapi ia membenci aku.”
  • Hiperbola adalah melebih-lebihkan. Contoh: “Mantanku bersikap seperti tentara Nazi dan berwatak buaya.”
  • Metafora adalah menyiratkan perbandingan satu hal dengan terminologi hal lain. “Dia berhenti diet di bulan Mei, dan menjadi paus di bulan November.”
  • Simile adalah membandingkan dengan menggunakan “seperti”, “bagai” dan semacamnya. Contoh: “Setelah diinjak kuda, kaki pria itu jadi seperti panekuk.”

16. Pilihlah kiasan yang beresonansi dengan cerita, tema, karakter, konflik. Contoh: Charles Dickens, dalam A Christmas Carol, mendeskripsikan karakter utamanya “sendiri bagai tiram.” Kita tahu bahwa tiram mempunyai cangkang, dia berada di dalam cangkang itu, sendirian, terisolasi, dan bentuknya kecil. Pas dengan karakter tokoh utama tersebut. Inilah yang dimaksud dengan resonansi.

17. Petunjuk menggunakan kiasan:

  • Jangan gunakan yang lama atau klise, tetapi yang bagus dan segar
  • Jangan gunakan simile yang tidak logis
  • Jangan mencampurkan dua atau lebih metafora
  • Pastikan kiasanmu bisa dimengerti pembaca
  • Jangan melebih-lebihkan atau menambah-nambahi perbandingan
  • Hati-hati jika membuat perbandingan, pastikan beresonansi
  • Kiasan dengan hal menjijikkan tidak akan menghasilkan resonansi yang bagus
  • Jangan membuat kiasan yang sulit divisualisasikan
  • Jangan bermegah-megah
  • Jangan gabungkan kiasan dengan harfiah

18. Tips yang penting untuk membuat prosa dinamis:

  • Buatlah deskripsi melalui sudut pandang karakter.
  • Gunakan deskripsi dengan prosa yang aktif, bukan statis. Gambarkan sesuatu terjadi pada benda, bukan hanya penyebutan benda ini itu, dll.
  • Adegan sebaiknya berubah, atau persepsi pembaca terhadap adegan sebaiknya berubah. Adegan memberikan sesuatu ‘pencerahan’ bagi pembaca terhadap keseluruhan cerita.
  • Masukkan unsur waktu, warna, tekstur, kedalaman.
  • Detail lebih baik daripada terlalu umum.
  • Berikan pengalaman membaca seperti menonton film, namun lebih baik lagi, yaitu melibatkan indra: pendengaran, penglihatan, peraba, pengecap,, penciuman, indra psikis, dan rasa humor.

Teman-teman yang ingin berdiskusi, bisa menghubungiku di before20writer@gmail.com atau pada kolom komentar di bawah.

Minggu depan kita akan mempelajari MENULIS ULANG.

Semoga bermanfaat.

Share:

3 comments:

  1. Posting kali ini perlu waktu lama buat mengunyahnya.

    ReplyDelete
  2. @Efi: sepertinya terlalu banyak materi, ya, Mbak? Hehehe. Silakan kalau ada yang mau didiskusikan. :)

    ReplyDelete
  3. Bang, kalau misalnya 'waktu menetes, waktu tersumbat, dan lain-lain' itu termasuk apa, ya? Perumpamaan, ya?

    Terima kasih, bang.

    ReplyDelete

Thank you so much for the comment.