Thursday, January 16, 2014

BELAJAR MENULIS NOVEL (MINGGU 2): KONFLIK

Setelah memperoleh karakter-karakter yang mempunyai kepribadian menarik, kita perlu menciptakan situasi yang menyebabkan konflik. “Perselisihan” tersebut haruslah dihadapi oleh karakter kita. Jangan biarkan dia menjalani cerita yang membosankan. Bayangkan kehidupan yang damai, rutin, serta menoton. Membosankan, kan? Itulah alasan kenapa konflik sangat penting. 

Seorang penulis bisa saja menceritakan adegan sarapan sebuah keluarga. Namun, bagaimana menentukan adegan itu menarik atau tidak? Dilihat dari ada atau tidaknya konflik.

Source: manquerita

Bagaimana menciptakan konflik dalam novel?
Kunci awalnya adalah: mendesak vs bertahan. Ciptakan tokoh/keadaan yang memaksakan sesuatu pada tokoh utama. Sesuatu itu (pendapat, pemberian, kata-kata, dll) menjadi hal yang tidak bsia diterima begitu saja. Dia harus bertahan, makanya dia melakukan sesuatu. Maka tercipta konflik, agar karakter bertindak untuk menyelesaikannya.

Seorang penulis naskah drama, Raymond Hull, memberikan sebuah formula: 

M + G + O = C
Main character + his Goal + Opposition = Conflict

Setiap tokoh utama harus mempunyai ruling passion dan menemui penghalangnya. Itulah ramuan agar bisa terbuat konflik.

Apa syarat konflik yang menarik untuk novel?
1. Antagonis/oposisi sama-sama memiliki ruling passion (tentu saja untuk menghalangi protagonis mendapatkan tujuannya) dan sama-sama sangat termotivasi.
2. Konflik menjadi titik pertemuan protagonis dan antagonis untuk menguji karakter mereka. Mereka harus saling berhadapan, passion mereka harus saling diuji. 

Apakah konflik harus eksternal, bagaimana dengan konflik batin?
Tidak juga, malah setiap novel sebaiknya mempunyai konflik eksternal dan konflik batin (inner conflict). Berikan keadaan kepada tokoh yang membuatnya harus menghadapi dilema. Cerita akan menjadi lebih menarik.

Bagaimana menyajikan konflik tersebut?
Ada yang bilang kalau novel yang menarik semenjak halaman pertama sudah memperlihatkan konflik! Namun, ada beberapa hal yang harus diingat:

1. Bangun konflik semenjak awal, tetapi perlahan-lahan. Ini dinamakan slow-rising conflict

Contoh: seorang cewek dan seorang cowok, mereka berhubungan. Konflik utamanya adalah mereka harus menyadari bahwa tidak ada lagi cinta di antara mereka. Pertama, berikan konflik berupa pertengkaran karena hal sepele, lalu konflik saat mereka menemukan perbedaan prinsip, lalu konflik kedatangan orang ketiga, dan akhirnya mereka dihadapkan dengan pilihan yang membuat mereka dilema: putus atau tidak. 
Membangun konflik secara bertahap membuat penulis berkesempatan untuk membangun karakter. Konflik harus semakin meningkat dan semakin sulit bagi karakter. Berikan dosisnya secara bertahap dan berlipat ganda menuju klimaks.

2. Setiap konflik yang diberikan kepada karakter harus mengubah karakter secara emosional. 

Contoh: dari pasangan di atas. Awalnya mereka hanya saling kesal sebentar, lalu mulai merasa kesal lama-lama, kemudian mereka saling merasa jijik, akhirnya mulai merasa marah kepada pasangan mereka, bahkan benci. 
Berikan konflik seperti bom yang sumbunya cukup panjang. Jangan biarkan dia langsung meledak. Karena puncak konflik ada di klimaks.

Apa yang perlu diperhatikan dalam membuat konflik?
Ketahui genre novelmu. Jika genrenya adalah romance, maka buatlah konflik yang terkait dengan hubungan pasangan. Jika ada karakter cewek dan cowok, mereka ingin dilibatkan dalam cerita romantis, jangan berikan konflik berupa munculnya alien dari luar angkasa. Atau novel detektif, maka konfliknya adalah sebuah kasus pembunuhan yang perlu diselesaikan oleh sang tokoh utama. Bukannya muncul pendekar dengan dua pedang yang berhasrat membunuh semua orang.

Ini adalah topik kedua yang terdapat dalam buku How to Write A Good Damn Novel karya James N. Frey. Untuk membaca contoh-contoh lengkap, silakan cari buku aslinya.

Sekian dulu untuk minggu ini. Minggu depan kita akan belaja bersama mengenai PREMIS. 
Semoga bermanfaat, ya. :)

Share:

2 comments:

  1. Semoga yang memberikan ilmu ini akan diberikan balasan yang setimpal dan kelak menjadi berguna dalam sosialnya :) Terima Kasih banyak

    ReplyDelete

Thank you so much for the comment.