Thursday, January 30, 2014

BELAJAR MENULIS NOVEL (MINGGU 4): CERITA

Setelah menciptakan karakter, membuat konflik, sehingga bisa menentukan premis, saatnya penulis novel menyusun cerita. Sederhananya cerita adalah narasi kejadian-kejadian. Seperti yang kita lakukan jika bertemu dengan kawan lama, kita akan bertanya tentang apa saja yang mereka lakukan selama kita tidak bertemu dengannya. Dia akan bercerita. Yah, memang ada cerita yang menarik dan ada cerita yang tidak menarik.

Sumber: The Writer's Room

Dalam fiksi, ada beberapa hal yang membuat cerita lebih menarik sehingga pantas untuk dituliskan oleh novelis. Yaitu adanya:
(1) karakter yang pantas untuk diceritakan (yang bagaimana? Baca lagi bahasan minggu 1)
(2) karakter tersebut berubah setelah mengalami kejadian-kejadian.
Jadi, cerita di dalam novel yang bagus adalah narasi kejadian-kejadian tentang karakter yang menarik yang mengalami perubahan sebagai akibat dari kejadian-kejadian tersebut.

Kenapa karakter harus mengalami perubahan?
Karena seseorang yang tidak berubah sepanjang hidupnya berarti stagnan dan hidupnya sangatlah membosankan. Dan sebagai penulis novel, kita hendaknya menghindari hal-hal yang membosankan. Salah satu nasihat dari banyak penulis hebat adalah jangan repot-repot menulis kalau karakter fiksi tidak berubah di akhir cerita.

Apa sih yang dimaksud berubah?
Bisa jadi fisik karakter, seperti narator dalam Fight Club yang babak belur karena dihajar oleh orang-orang yang merasa terganggu karena dia menghalangi Project Mayhem (ingat aturan pertama klub petarung, haha). Namun, yang lebih penting adalah sifat, sikap, atau pandangan karakter terhadap sesuatu. Contohnya, dalam novel Love Story. Oliver Barret IV awalnya dikenal sebagai atlet hoki Harvard yang emosional dan sering berkelahi di pertandingan. Namun, di akhir cerita dia adalah suami setia hingga akhir kehidupan istrinya, Jenniver Cavilleri. Dan dia bisa menerima kematian istrinya dengan sabar, tanpa amarah. Sepanjang novel Oliver memang mengalami banyak kejadian: timnya kalah, diragukan orangtua sendiri, jatuh miskin, harus menyelesaikan kuliah segera agar bisa dapat kerja yang bagus, lalu jadi kaya lagi, tetapi sayangnya istrinya menderita leukimia dan segera meninggal. Di akhir cerita Oliver sama sekali orang yang berbeda dari karakter di awal cerita.

Lalu bagaimana bentuk cerita yang bagus itu?
Yaitu harus dramatis, karena inilah tipe cerita yang sangat enak untuk dibaca. Dalam cerita dramatis, karakternya berjuang menghadapi penghalang menuju passion-nya. Kalau sekadar cerita urutan kejadian, tidak membuat karakter bergerak dan berubah, berarti ini cerita yang membosankan. Buatlah cerita yang mengundang simpati dan identifikasi diri pembaca terhadap karakter. Identifikasi adalah saat pembaca bisa merasakan bagaimana seandainya mereka mengalami sendiri kejadian tersebut. Seperti mereka berkata, “Aku tahu rasanya menyedihkan kalau itu terjadi padaku.”

Selain itu, cerita yang bagus perlu memiliki “story question”, yang membuat pembaca bertanya-tanya apa yang terjadi selanjutnya setelah sebuah kejadian. Apa yang akan dilakukan karakter? Dan pertanyaan tersebut harus muncul semenjak pembukaan novel. Buatlah pembaca bertanya-tanya karena penasaran.

Terus, bagaimana awal cerita yang menarik?
“Status quo”, mulailah dengan memperlihatkan kepada pembaca bagaimana keadaan awal dari karakter. Maksudnya bukan membuat biografi dengan data seperti lahir di mana dan sebagainya (yang ini untuk penulis sendiri saat menciptakan karakter). Pada awal cerita, buatlah adegan-adegan yang menunjukkan sifat-kebiasaan-pandangan dari karakter-karakter yang akan terlibat dalam konflik cerita. Buatlah status quo sehingga pembaca bisa memahami kenapa nantinya karakter melakukan sesuatu saat menghadapi konflik.

Noor H. Dee, teman diskusiku, pernah membahas sebuah cerita yang karakternya tiba-tiba membunuh. Padahal sebelumnya tidak ada tanda-tanda karakter ini mampu membunuh seseorang. Tentu saja, bolong tersebut bisa ditambal jika penulis bersedia untuk menceritakan kejadian lebih awal sehingga pembaca bisa memahami dan memperoleh logika cerita.

Coba kita contoh dari The Godfather: Michael “Mike” Carleone berubah di akhir cerita. Dia awalnya tidak mau terlibat bisnis mafia keluarga, namun karena cinta keluarga dia bersedia membunuh orang-orang yang membahayakan nyawa keluarganya. Cerita dimulai dari pernikahan adik Mike (sebuah acara keluarga di mana semua orang hadir), dan dengan cerdik penulis bisa memperlihatkan semua karakter yang terlibat sepanjang cerita. Namun, perubahan Mike dari warga biasa menjadi mafia bisa diterima. Mario Puzo, sang penulis, memperlihatkan bagaimana Mike sangat menyayangi keluarganya, dia ikut wajib militer demi menjadi warga Amerika yang baik (dia datang dengan pakaian militer ke pernikahan adiknya). Makanya kita tidak heran kalau dia bisa menggunakan pistol dan memberikan strategi yang baik di saat keluarga-keluarga mafia Italia di New York bisa saja mulai berperang. 

Sedangkan pada Lolita, Nabokov menceritakan biografi dari Humbert Humbert, sang tokoh utama. Dengan itu pembaca bisa tahu dan memahami kenapa orang tua itu sangat mencintai dan menginginkan Lolita sedemikian rupa, yang umurnya jauh lebih muda dari dia. 

Situasi sebelum konflik, itulah status quo

Tanpa status quo, pembaca akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti kenapa penulis novel ini tidak membuat cerita yang logis dan menarik untuk di baca. Tentu kita ingin menghindari hal tersebut.

Bagaimana menyajikan cerita (kejadian-kejadian) dalam novel?
Secara bertahap, sehingga karakter berkesempatan berubah pada beberapa keadaan, tumbuh dari satu kutub ke kutub yang lainnya secara berangsur-angsur. Aristotle menulis dalam The Poetics bahwa sepanjang cerita dramatis karakter harus melewati “serangkaian keadaan yang memungkinkan dan dibutuhkan, bisa dimulai dari kemalangan ke kebahagiaan atau dari kebahagiaan ke kemalangan.” Atau dengan kata lain dari satu kutub ke kutub yang lain. 

Apakah ada cara untuk membuat urutan kejadian dan cerita?
Gunakan “stepsheet”, yaitu detail dan urutan kejadian yang akan ada di novel. Setiap kejadian harus mengandung unsur sebab akibat. Sesuatu terjadi mempengaruhi hal lain, atau karena terjadi ini maka itu bisa terjadi. 

Contohnya, pada debut novel saya, Song of Will, karakter utama ditinggalkan sahabatnya sekaligus anggota satu grup vokalnya. Hal tersebut membuat dia merasa hilang pegangan, sehingga dia mulai meragukan diri sendiri. Salah satu anggota grup yang membencinya memanfaatkan keadaan ini dengan menghasut anggota lain, akibatnya Will dikeluarkan dari tim.

Dengan steepsheet kita menulis dengan alur yang jelas, logis, dan lengkap. Dengan ini kita bisa menghindari writer’s block. Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti timeline, tumpukan kartu atau post-it (seperti pada gambar di atas), atau daftar di Ms. Word. Yang penting prinsip-prinsip cerita yang menarik ada di dalamnya. Bahkan, steepsheet bisa dipakai untuk lampiran saat mengirimkan naskah ke penerbit. Hal ini akan sangat membantu editor dalam evaluasi naskah.

Buatlah steepsheet mulai dari status quo, lalu karakter menemukan konflik, hingga berubah dan berkembang setiap menghadapi kejadian, kemudian menghadapi kilmaks. Dan minggu depan adalah saatnya kita belajar bersama mengenai klimaks. 

Yup, minggu depan kita akan belajar bersama mengenai KLIMAKS.
Terima kasih, semoga bermanfaat. 


Share:

4 comments:

  1. Aku masih newbie dalam hal ini...thanks y sharingnya ;D

    ReplyDelete
  2. Hai Mala: semoga bsia dietrapkan di karyamu, yah. :)

    Hai Anon: banyak-banyak juga baca novel karya sastrawan hebat, yah.

    ReplyDelete
  3. masih bingung dengan status quo, gimana dgn novel misteri yg merahasiakan status karakternya sebelum suatu kejadian? apa memang harus diceritakan dari awal supaya lebih logis? menurutku kesan misterinya jadi kurang, kalau bisa aku mau cerita dan menjelaskan statusnya di setelah kejadian. mohon bantuannya :)

    ReplyDelete

Thank you so much for the comment.