Thursday, February 6, 2014

BELAJAR MENULIS NOVEL (MINGGU 5): KLIMAKS

James N. Frey, dalam bukunya yang sedang kita pelajari, How to Write A Good Damn Novel, meminta kita membayangkan klimaks sebagai ujung seberang dari jembatan yang sedang kita lewati. Titik awal kita berjalan adalah premis, sesuatu yang harus dibuktikan. Cerita adalah jembatan, sesuatu yang dibangun dengan peningkatan intensitas, konflik yang semakin menarik perhatian pembaca, di mana terjadi perubahan karakter setiap kali menyelesaikan konflik—hingga sesuatu terjadi sebagai konflik utama novel tersebut. Sebuah revolusi, perubahan yang mendasar. Aristoteles dalam The Poetics menyebutnya sebagai “peripety”, yaitu perubahan ke arah yang berlawanan secara cepat. Jika cerita adalah sebuah pertanyaan, maka klimaks adalah jawabannya. Klimaks berada di seberang cerita. 


Inilah klimaks The Godfather. Sumber: VideoMaker

Apa maksudnya dengan di seberang cerita?
Karakter melalui alur cerita yang mengubah sifatnya secara mendasar, sehingga dia berada di “seberang” dari awal mula. Di klimaks, karakter pengecut akan menemukan keberanian. Dua orang yang saling menyukai tetapi masih saling mengenal satu sama lain akan bersatu (mungkin menikah), atau pendosa menjadi alim dan alim jadi pendosa. Contoh pada The Old Man and The Sea: Pak Tua yang awalnya tidak mendapatkan ikan selama 84 hari akhirnya bisa mendapatkan ikan yang sangat besar. Atau dalam novel Cheer Boy, tim pemandu sorak beranggotakan para amatiran itu bisa menjadi tim yang diperhitungkan di ajang tingkat nasional. 

Bukankah klimaks termasuk di dalam cerita?
Setengah benar, tetapi cerita adalah narasi perjuangan karakter demi passion-nya. Mulailah dengan menarasikan keadaan karakter sebelum dia menemui dilema. Dia berjuang menyelesaikan dilema itu, namun tindakannya malah menyebabkan keadaan lain yang lebih kritis, dan keadaan kritis meningkat ke titik di mana ini harus diselesaikan. Lalu, sebuah aksi dilakukan karakter, menuju klimaks. Hasilnya bisa happy ending atau sad ending, tetapi krisis berakhir.  Bagaimanapun keadaan berubah, selalu ada revolusi, yaitu keadaan berubah secara mendasar. 

Apa klimaks berarti ending, lalu apa perbedaan antara klimaks dan resolusi?
Terkadang orang membedakan antara klimaks dan resolusi. Padahal keduanya adalah satu entitas. Klimaks adalah titik, sebuah momen, bagian tertentu yang akan dikenal pembaca sebagai konflik utama cerita.  Sedangkan entitas klimaks-resolusi adalah pembuktian premis. Klimaks saja belum cukup untuk membuktikan premis, harus berwujud klimaks-resolusi.

Contohnya: premis The Godfather adalah “setia pada keluarga menyebabkan terlibat dalam kehidupan kriminal” (ingat selalu ada 3C dalam premis). Cerita memperkenalkan Michael yang tidak mau ikut urusan keluarga tetapi dia sayang keluarganya. Lalu terjadi konflik: ayahnya diserang. Dia mulai berubah, hingga suatu saat dia harus melakukan tindakan demi keluarganya melalui sebuah pembunuhan. Klimaks adalah saat terjadi balas dendam, aksi kriminal yang besar. Sedangkan resolusinya adalah keluarga Corleone kembali menguat, dan Mike menjadi Don, penerus ayahnya, menjadi The Godfather.

Apakah klimaks hanya untuk karakter utama?
Setiap karakter memiliki premis masing-masing. Jika premis novel adalah “seorang yang sangat mencintai bisa menyebabkannya gila”, bukan berarti semua karakter di dalam novel tersebut sedang jatuh cinta. Selain karakter utama, karakter pendukung pun harus berubah, harus mendapatkan bukti dari premis mereka sendiri. Contoh: selain Mike, di The Godfather juga ada Sonny, kakaknya. Sonny orang yang cepat marah, bertindak sebelum berpikir, dan sikapnya menyebabkan dia dibunuh. Premis bagi karakternya adalah “seseorang jika berdarah panas bisa membuatnya mati”. Terbukti gara-gara menyerang orang membabi buta, akibatnya Sonny dijebak dan dibunuh. Karakter harus dinamis, mereka berubah setelah menghadapi konflik-konflik. Dan premis harus dibuktikan. 

Apakah masih ada konflik setelah kilmaks?
Ada, namanya ‘konflik penyelesaian’. Konflik dengan intensitas menurun, antiklimaks, menunjukkan akibat dari klimaks. Konflik penyelesaian juga diperlukan untuk menyelesaikan konflik sekunder yang sebelumnya diberikan sebelum klimaks. Contohnya: seorang cowok pengangguran sedang mencari kerja. Gara-gara dia seorang pengangguran maka pacarnya kecewa. Klimaksnya dia mendapat pekerjaan. Dan ‘konflik penyelesaian’-nya adalah kembalinya si pacar setelah si cowok mendapat pekerjaan (happy ending) atau mereka memutuskan memang sebaiknya putus saja (sad ending). Konflik penyelesaian diperlukan hanya jika ada konflik sekunder atau konflik yang belum diselesaikan pada klimaks.

Jadi, bagaimana cara membuat klimaks-resolusi yang berhasil?
Ikuti langkah berikut:
Pertama: berikan kejutan bagi pembaca
Kedua: gugah emosi pembaca
Ketiga: berikan ganjaran bagi karakter
Keempat: temukan sifat baru bagi karakter
Kelima: lengkapi cerita novel dengan klimaks-resolusi

Contoh: The Godfather lagi. 
Pertama: kejutan. 
Saat keluarga Corleone masih terancam, ternyata Mike-lah melakukan balas dendam brutal terhadap semua kepala keluarga mafia lain.
Kedua: emosi pembaca. 
Yaitu saat pembaca setuju dan mendukung tindakan Mike, pembaca ingin Mike dan keluarga Corleone tetap bertahan dan semakin kuat. Kalau tidak, pembaca akan kecewa.
Ketiga: ganjaran bagi karakter. 
Mike menjadi penerus Don Corleone. Dia menjadi The Godfather.
Keempat: sifat baru.
Mike tidak lagi seorang warga sipil biasa. Dia menjadi lebih dingin dan perhitungan. Dia mafia. Setiap tindakannya adalah menyangkut keluarga dan bisnis keluarga Corleone.
Kelima: lengkapi cerita dengan klimaks-resolusi.
Setiap konflik, pertanyaan diselesaikan dengan klimaks-resolusi. Premis terjawab. Bahkan untuk konflik sekunder. Jika konflik utama adalah Mike melakukan balas dendam besar-besaran, maka konflik sekunder adalah kekuatan keluarga Corleone semakin meningkat di antara keluarga mafia New York lainnya. Tidak semua konflik sekunder harus diselesaikan, tetapi yang penting cerita selesai. Karena klimaks yang bagus meninggalkan kesan bagi pembaca bahwa cerita dalam novel yang mereka baca sudah selesai. Finish.

Kalau begitu, finish juga pelajaran minggu ini. Kamis depan kita akan belajar bersama mengenai SUDUT PANDANG (termasuk tentang narator dan penggunaan flashback). 

Semoga bermanfaat.

Baca bahasan sebelumnya:  Minggu 1: Karakter - Minggu 2: KonflikMinggu 3: PremisMinggu 4: Cerita

Share:

0 comments:

Post a Comment

Thank you so much for the comment.