Thursday, February 13, 2014

BELAJAR MENULIS NOVEL (MINGGU 6): SUDUT PANDANG

Setelah penulis membuat cerita dengan klimaks-resolusi yang cukup hebat—tenang, selalu ada kesempatan untuk merevisi cerita atau klimaks yang masih “yah, lumayanlah”—dia perlu menentukan sudut pandang. Mungkin kita pernah membaca tentang point of view (POV) 1, 2, 3. Lalu ada nasihat begini: “Gunakan POV 1 untuk intimasi karakter dengan adegan, sehingga lebih terasa bagi pembaca. Dan hindari POV 3 jika tidak ingin ceritamu jadi berjarak atau semacam itulah.” James N. Frey, penulis buku yang kita pelajari ini, mengatakan hal seperti itu di buku pertamanya. Namun, di jilid kedua dia mengakui kekeliruannya. Kenapa? Mari kita mulai dulu pelajaran pada minggu ini.

Sumber: makemisteaks

Apa itu sudut pandang?
Dalam novel, biasanya yang disebut sudut pandang adalah sudut padang karakter, yaitu kombinasi dari opini, prasangka, selera, dan sikapnya terhadap karakter lain, situasi, dan sebagainya. Jadi, jika saat membaca sebuah novel kita menemukan begini: “Joko tidak menyukai donat bertabur kacang, rendang buatan istrinya, dan maling jemuran.” berarti penulisnya sedang membeberkan sudut pandang karakter tersebut. Seperti yang kita pelajari pada minggu pertama, karakter mempunyai tiga dimensi: fisiologi, psikologi, dan sosiologi.

Lalu, apa maksudya dengan “point of view”? 
Sama saja, tetapi terkadang istilah ini cukup membingungkan. Beberapa penulis mengatakan kalau POV adalah bagaimana cara buku itu ditulis; pakai “aku” atau “dia”? Lebih tepatnya sudut pandang adalah bagaimana posisi penulis dalam hubungannya dengan karakter. Ini disebut locus of narrative. Ada beberapa pilihan:

  • Sebagai saksi mata objektif seperti reporter (objective viewpoint)
  • Sebagai seorang karakter (subjective viewpoint)
  • Sebagai dewa yang mahatahu (omnicient)


Bagaimana sudut pandang sebagai saksi mata objektif seperti repoter itu?
Seperti seseorang yang menceritakan kejadian yang dilihatnya. Dia akan menceritakan hal tersebut secara objektif, hanya tindak tanduk karakter saja. Sedangkan dia sama sekali tidak menulis apa yang dirasakan atau dipikirkan tokoh. Sudut pandang ini sering dipakai dalam novel detektif atau thriller yang membutuhkan misteri serta rahasia tersimpan sebelum saat yang tepat. Namun, jika menggunakan sudut pandang ini, pembaca akan merasa kering, seperti membaca laporan berita. Yup, terkadang saat kita membaca novel karya seorang wartawan,  kita serasa membaca koran, bukan cerita. 

Solusinya adalah menggunakan sudut pandang objektif modifikasi (modified viewpoint). Narator, selain menuliskan tindak tanduk karakter, juga membuat dugaan/prasangka terhadap tindakan tersebut. Kadang dia mengira-ngira sesuatu yang ternyata tidak terbukti. Dia ingin pembaca menebak-nebak apa yang sebenarya terjadi dan apa akibatnya. Kadang dia mengira-ngira sesuatu yang sama-sama dikira pembaca. Namun, ada penulis yang ‘curang’ menggunakan teknik ini untuk mengelabui pembaca. Contohnya: seorang karakter diceritakan menanti-nanti pujaan hatinya yang lagi merantau, tapi menjelang halaman terakhir dia malah jadian dengan orang lain.  

Yang kedua?
Subjective viewpoint, atau sudut pandang orang pertama, adalah menggunakan karakter sebagai narator. Sudut pandang ini disebut subjektif karena opini, prasangka, selera, dan sikap naratornya adalah milik si karakter. Dia menceritakan sesuatu kejadian sesuai dimensi karakternya. Dia akan menghakimi sesuai pemikirannya, akan mengatakan sebuah kejadian menyenangkan karena dia merasa senang, dan sebagainya. Naratornya tidak harus karakter utama. Bisa protagonis, antagonis, bahkan karakter minor. 

Contohnya: Love Story (Erich Segal), Looking for Alibrandi (Melina Marchetta), dwilogi If I Stay (Gayle Foreman), dan banyak lagi.

Dan omnisien? 
Inilah yang membuat penulis bisa pura-pura sebagai tuhan bagi karakter ciptaannya. Dia memasuki kepala setiap karakter, mengatakan apa yang terjadi di dalam kepala mereka, apa yang mereka rasakan, bagaimana pendapat mereka terhadap sebuah kejadian. Sudut pandang bisa berubah dari satu karakter ke karakter yang lain. Novel-novel klasik (Victorian novel) biasanya mengunakan sudut pandang seperti ini. Namun, bukan berarti ini tidak bisa digunakan lagi. 

Saran terbaik adalah menggunakan omnisien terbatas. Yaitu, narator bisa memberitahu isi kepala karakter tertentu saja, bukan semua karakter. Dengan cara ini, pembaca berkesempatan untuk mengenal dan mengidentifikasi karakter yang penting. Penulis tidak perlu mengubah sudut pandang terlalu sering. 

Contohnya: The Hours (Michael Cunninghum), serial Harry Potter (J.K. Rowling), Cheer Boy (Asai Ryo). Novel saya yang berjudul Song of Will, juga menggunakan omnisien terbatas.

Bagaimana menentukan sudut pandang mana yang dipakai?
Jawabannya adalah dengan sebuah pertanyaan: “Siapakah yang paling tepat untuk menceritakan kisah tersebut?” Misalkan tokoh utama meninggal di tengah cerita, tidak mungkin kita akan menggunakan sudut pandangnya. Dia sudah mati sebelum sempat menceritakan kelanjutan cerita. 

Sudut pandang subjektif sama saja dengan sudut pandang omnisien terbatas. Jika ada yang bilang bahwa subjektif lebih terasa intimasi karakter dengan pembaca dibanding omnisien terbatas, maka abaikan nasihat tersebut. Keduanya bisa mengantarkan cerita dengan kadar intimasi yang sama. Cobalah beragam sudut pandang, dan pilih mana yang menceritakan dengan paling baik. 

Pertimbangkan juga pilihan sudut pandang sesuai dengan genre novel. Jika novel romance ingin menampilkan hubungan antara sepasang kekasih, maka gunakan omnisien terbatas. Jika ceritanya adalah novel remaja tentang cewek yang hamil dan melahirkan sebelum lulus SMA, gunakan subjektif. Sedangkan jika cerita mengenai masyarakat, seperti novel Victorian, gunakan omnisien mahatahu.

Oh, ya, ada yang bilang kalau penulis tidak boleh ‘menampakkan diri’ dalam cerita, begitukah?
Aku sering mendengar itu, apalagi jika naskah kita dibaca oleh teman sendiri. Dia akan bilang: “Dalam naskah ini kamu masih muncul, masih kelihatan seperti kamu!” Well, James N. Frey mengakui di jilid kedua How to Write A Good Damn Novel, bahwa dia keliru di jilid pertama. Awalnya dia bilang penulis harus tidak kelihatan (invisible), tetapi nasihat terbaiknya adalah penulis tentu saja bisa muncul di tulisannya, terutama untuk objektif dan omnisien, penulis bisa saja muncul. Contoh paling klasik adalah: “Pembaca yang budiman, dahulu kala...” atau saat dia mulai memperkenalkan karakter utama: “Ada tiga orang wanita di balkon itu, dan Anne adalah yang paling cantik.” Siapa yang mengatakan Anne cantik, siapa yang menentukan? Tentu saja penulis. 

Selain sudut pandang, kita mempelajari beberapa hal berikut:
Identifikasi
Penulis perlu membuat pembaca bisa mengidentifikasikan dirinya terhadap karakter. Identifikasi adalah pembaca mampu membayangkan jika apa yang dialami karakter dialami oleh dirinya sendiri. Caranya dengan mencelupkan karakter ke situasi emosional. Buatlah karakter menghadapi pilihan, yang sulit, sehingga pembaca bisa berpartisipasi dalam proses mengambil keputusan. Buatlah pembaca bersimpati dan berempati terhadap karakter.

Kilas balik
Satu nasihat: hindari ini, gunakan hanya jika benar-benar dibutuhkan. Pertahankan cerita berlangsung SAAT INI juga. Kilas balik adalah salah satu cara yang ‘curang’ karena penulis tidak cukup lengkap menulis bagian status quo. Apa itu status quo? Baca lagi di sini. Novel akan lebih menarik jika ditulis secara kronologis, tanpa diinterupsi oleh kilas balik. Hal ini bisa diubah dengan membuat kilas balik itu disampaikan oleh karakter di adegan saat ini. Apakah ini membuat cerita jadi kurang menarik? Tentu saja ini akan membuat cerita berlanjut, konflik terbangun, dan pembaca meneruskan bacaannya.

Pertanda (foreshadowing)
Inilah seni membangkitkan story question. Dengan pertanda, kita bisa membuat pembaca penasaran dengan apa yang akan terjadi. Selain membuat penasaran, penulis juga bisa membuat semacam ‘kejutan’ dengan cara membuat karakter melakukan aksi tertentu selama masih di status quo atau di sela konflik, yang penting sebelum klimaks, yang mana aksi ini akan memainkan bagian besar belakangan. Contohnya: dalam salah satu novel favorit saya dari seri Harry Potter, The Prisoner of Azkaban, diceritakan di awal kalau Hermione mengambil banyak kelas, membuat Harry dan Ron heran bagaimana caranya mengatur jadwal. Ternyata di akhir ketahuan kalau Prof. McGonagall memberikan jam pasir ajaib demi Hermione bisa memutar ulang waktu. Benda ini membantu mereka nantinya menghadapi dementor dan menyelamatkan hippogriff-nya Hagrid. Pertanda bisa dibuat lewat narasi, menggunakan karakter minor, atau aksi karakter utama sendiri. Dan, seperti janji suci, pertanda harus ditepati. Tindakan ‘kecil’ itu harus memberikan dampak yang layak bagi pembaca.

Simbol
Biasanya, jika kita sekolah di Amerika, murid ditugaskan menemukan simbol, pesan tersembunyi penulis kepada pembaca. Namun, bagi kita yang ingin menulis novel, tujuan simbol adalah untuk memberikan arti tambahan bagi sesuatu (aksi maupun benda). Simbol yang tepat akan memfokuskan pembaca pada konflik. Contohnya: seorang karakter ingin diterima di kalangan elit, maka disimbolkan dia menggunakan pakaian mahal dan mobil sport terbaru. Pastikan simbol bukan sekadar ‘permainan’, tetapi sesuatu memang berdampak pada karakter, konflik, atau klimaks.

Ternyata panjang juga artikel pelajaran minggu ini. Semoga bermanfaat dan jika ada yang ingin berdiskusi silakan email ke before20writer@gmail.com. Minggu depan kita bersama-sama membahas DIALOG. 

Baca bahasan sebelumnya:  Minggu 1: KarakterMinggu 2: KonflikMinggu 3: PremisMinggu 4: CeritaMinggu 5: Klimaks

Share:

0 comments:

Post a Comment

Thank you so much for the comment.