Wednesday, June 18, 2014

Character that Stands Out (Catatan Belajar dengan Eka Kurniawan)

Sumber Gambar: Professional Academy

Aku beruntung bisa ikut Writing Clinic Femina, belajar dari salah satu penulis yang kukagumi, Eka Kurniawan. Walaupun ada perasaan tidak nyaman berada di ruangan serba guna Gedung Femina itu. Selain suhu ruangan terlalu dingin untuk pagi hari berhujan, aku juga adalah 1 dari 4 orang pria yang menjadi peserta. Bahkan aku malu untuk mengangkat tangan hendak bertanya. Yah, pada akhirnya aku memang tidak berkesempatan bertanya satu hal pun.

Namun, sesi Eka Kurniawan cukup untuk menambah pengetahuanku. Tema yang diangkat oleh penyelenggara adalah “Eksplorasi Karakter Wanita dalam Karya Fiksi”.  Dan Eka memberikan makalah dan kuliah lebih general, “Menciptakan Karakter” tanpa mengkhususkan karakter wanita atau tidak. 

Ada beberapa tahapan dalam membuat karakter. Tahapan ini berguna untuk menciptakan karakter yang “stands out”. Menonjol. Seorang karakter dalam cerita yang akan meninggalkan kesan bagi pembaca. Seperti Nyai Ontosoroh. Karakter yang kuat. Pembaca tetap ingat meski sudah membaca begitu lama.

Secara ringkas, berikut cara menciptakan karakter:

Ciptakan yang Menonjol
Seperti setangkai bunga kuning di padang rumput hijau luas. Keberadaannya mudah untuk ditangkap mata. Dicontohkan, karakter Nyai Ontosoroh menjadi wanita yang tidak bersedia menyerah begitu saja dengan keadaan di masa kolonial. Dia unik dari semua karakter lainnya.

Pada sesi latihan, Eka meminta para peserta untuk menentukan sebuah kejadian dramatis beserta tiga karakter yang merespons secara berbeda. Latihan ini berguna untuk menentukan seberapa menonjol karakter kita, yang sebaiknya menjadi karakter utama. Aku membagikan tulisanku di sini, aku merasa sudah cukup sama dengan apa yang diharapkan dari latihan ini. 

Peristiwa: anak sulung yang dibanggakan dari sebuah keluarga meninggal karena bunuh diri. 
Respons Karakter:
Karakter 1 (Ibu): berusaha tegar, mengajak keluarganya untuk merelakan. 
Karakter 2 (ayah): depresi dan merasa bersalah, merasa gagal.
Karakter 3 (anak bungsu): menutup diri, merasa bingung dan stres, hingga menutup diri.
Karakter Ibu sudah menunjukkan sifat menonjol, berbeda daripada karakter lainnya. Keunikan bisa menimbulkan konflik, dan itulah hal penting dalam cerita. Konflik. 

Selain itu, kita juga bisa menciptakan twist. Seorang karakter memiliki sifat tertentu, tetapi di bawah sadarnya dia juga memiliki sifat yang berlawanan. Saat menghadapi konflik, dia dianggap berubah oleh lingkungannya. Padahal sifat berbeda tersebut sudah ada sejak lama. Contoh: seorang introvert yang berubah menjadi ekstrovert karena jatuh cinta.

Karakter utama mestilah menjadi sosok yang paling menonjol. Bukan berarti dia sempurna, tetapi dia memang memiliki keunikan yang memicu konflik. 

Buat Masuk Akal
Karakter mestilah berada di latar cerita yang layak. Eka mengatakan jangan pergi ke pesta dengan salah kostum (walaupun dia datang berkaus merah di acara dengan dress code biru, hehe). Karakter pun begitu. 

Ekspresikan Karakter
Cara paling mudah adalah dengan memberi nama. Sebaiknya nama tidak asal comot dari daftar nama di buku telepon ataupun di buku nama-nama bayi seluruh dunia. Untuk penulis yang peduli dengan semua aspek karyanya, nama bisa jadi hal yang menunjukkan karakter tokoh tanpa perlu mengatakannya. Misalkan, karakter dengan nama Sakura Kinomoto, tanpa diberitahukan pun pembaca sudah bisa menebak bahwa dia orang Jepang. Pembentukan karakter juga dilakukan untuk fisik, sifat, lingkungan, kondisi-kondisi tertentu. Gunakan prinsip “show-tell” secara bijak dalam tulisan. 

Kembangkan Karakter
Ini adalah hal yang sulit, kata Eka, karena tugas penulis mengawal pengembangkan karakter agar tetap masuk akal. Cerita terdiri dari konflik dan konflik dan konflik. Agar tidak sekadar laporan peristiwa, karakter mestilah berkembang dari satu konflik ke yang lainnya. Dan, perubahan karakter harus masuk akal. 

Buat Respons yang Sesuai
Perhatikan bagaimana respons karakter terhadap peristiwa yang menimpanya. Respons tersebut mestilah mempertimbangkan langkah-langkah sebelumnya. Contoh: respons terhadap peristiwa penembakan di sebuah mal. Seorang wanita biasa pasti sudah ketakutan dan berusaha melarikan diri ke tempat yang dia pikir aman. Sedangkan wanita yang sedang liburan, tetapi dia sebenarnya adalah polisi, pasti berusaha mencari tahu di mana kejadian itu—atau dia paling tidak tergerak untuk melindungi orang-orang lainnya alih-alih melarikan diri juga.

Sesi latihan terakhir, Eka meminta peserta untuk memberikan respons dari peristiwa berikut:

Peristiwa: seorang ayah membunuh tetangganya yang dia yakini telah memperkosa anak gadisnya. Namun, ternyata dia membunuh orang yang salah. 
Pertanyaan: apa yang akan dia katakan kepada anak gadis si tetangga tersebut?
Jawabanku: “Kamu bisa membunuhku, menjadikan anakku seperti dirimu. Tapi dia akan sedih. Dan aku tidak suka anakku semakin menderita.”

Sebagian peserta mengajukan jawaban yang mengedepankan moral, penyesalan, dan sikap rela untuk dihukum. Mungkin aku sedikit banyak juga melakukan hal yang sama. Padahal, kata Eka, penulis perlu memberi jarak dirinya dari karakter. Jangan memaksakan karakter menjadi penulis atau memiliki pandangan sama seperti penulis. Dengan itulah kita bisa menciptakan krakter yang stands out.

Itulah catatan belajarku. 
Semoga aku bisa semakin terasah untuk menciptakan karakter yang memorable

Semoga bermanfaat.

Share:

1 comment:

Thank you so much for the comment.